Dunia supervisi akademik selama ini identik dengan evaluasi dan penilaian kinerja guru. Namun, modul 2.3 membuka mata saya terhadap pendekatan yang lebih memberdayakan: coaching. Modul ini ibarat peta yang menuntun saya menjelajahi konsep coaching, prinsip-prinsipnya, dan potensinya dalam meningkatkan kinerja guru dan kualitas pembelajaran murid.

Melaporkan (Reporting):

Modul ini menjabarkan coaching secara komprehensif. Dari definisi dan manfaatnya, hingga proses coaching yang efektif. Salah satu aspek yang menarik adalah prinsip-prinsip coaching, seperti membangun rapport, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan yang powerful. Hal ini berbeda dengan supervisi tradisional yang terkadang cenderung memberi instruksi langsung. Modul ini juga memperkenalkan berbagai model coaching yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan guru.

Merespon (Responding):

Menelusuri materi coaching memunculkan antusiasme dalam diri saya. Coaching menawarkan potensi luar biasa dalam membantu guru mengembangkan potensinya secara mandiri. Tidak lagi hanya sekedar menerima instruksi, guru kini didorong untuk menemukan solusi terbaik bagi permasalahan yang dihadapi di kelas. Selain itu, coaching dapat membangun budaya positif di sekolah yang berfokus pada pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan.

Menghubungkan (Relating):

Modul ini memicu ingatan saya pada pengalaman sebagai guru. Dulu, saya pernah dibimbing oleh seorang guru senior yang menerapkan pendekatan coaching. Beliau tidak langsung memberikan solusi atas kesulitan saya, namun lebih banyak mengajukan pertanyaan yang memancing refleksi. Proses ini membantu saya mengidentifikasi kelemahan dan mengembangkan strategi untuk meningkatkan kemampuan mengajar sendiri. Pengalaman tersebut membuktikan dampak positif coaching terhadap perkembangan profesional guru.

Menalar (Reasoning):

Coaching tidak sekadar memberikan solusi instan. Coaching memfokuskan pada pengembangan guru agar mereka mampu menemukan solusi mandiri. Melalui coaching, guru didorong untuk meningkatkan kesadaran diri, keterampilan berpikir kritis, dan kepercayaan diri. Proses ini pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran murid. Guru yang terberdayakan akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih efektif dan berpusat pada murid.

Merekonstruksi (Reconstructing):

Terinspirasi oleh modul ini, saya berkomitmen untuk menerapkan coaching dalam supervisi akademik. Langkah awal adalah memperdalam pengetahuan tentang coaching dan mengembangkan keterampilan coaching saya. Selain itu, saya akan berkolaborasi dengan guru lain untuk membangun budaya coaching di sekolah. Ini dapat dilakukan melalui kegiatan pelatihan dan sharing session tentang praktik coaching antar guru.

Kesimpulan:

Coaching menjadi angin segar dalam dunia supervisi akademik. Pendekatan ini berpotensi meningkatkan kinerja guru dan kualitas pembelajaran murid. Dengan dedikasi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang efektif, coaching dapat menjadi alat transformatif untuk membangun sekolah yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *